Dear basket lord, gimana kabarnya? semoga selalu sehat dan kokoh tak tertandingi kayak iklan semen beton.. Namanya sebuah kompetisi atau pertandingan atau apapun itu yang mengharuskan ada salah satu pihak yang menang dan kalah, pasti muncul persaingan alias rivalitas. Nah, persaingan yang terjadi secara alami ini, sangat amat wajar, dan membuat sebuah permainan menjadi lebih seru, dramatis, dan menguras emosi, keringat, air mata, dompet, menguras, menutup, mengubur alias 3M (skip) dan lainnya, eh 3M itu iklan demam berdarah ya? Kenapa jadi iklan demam berdarah?
Lanjut, kita yang nonton tuh jadi seolah-olah ikut merasakan panasnya perebutan tahta terbaik, antara para pihak yang bermusuhan tadi, tentunya secara sportif, jujur, adil, terbuka, mirip Pemilu. Termasuk di liga basket Saiyan ini nih, yang enggak lepas dari rivalitas antar tim dan para pemainnya.
Dari tiga musim yang sudah berjalan, regular season hingga liga, buat yang sering hadir di setiap game pasti sudah bisa menebak siapa saja yang kelihatannya lagi saling bersaing. Tapi biar lebih legal, hal ini tentu didiskusikan dulu dengan grup yang dinaungi para fathers. Hasilnya, setelah lirik kanan kiri mau nyeberang jalan, muncul 3 tipe rivalitas di Saiyan Basketball League ini. Apa aja tuh DJ? Musikk…
Pertama, rivalitas yang muncul karena dendam di masa lalu, which is maksudnya di musim-musim sebelumnya. Kedua, persaingan yang muncul karena regular game. Ketiga, permusuhan yang sangat diharapkan, tapi malah gagal terjadi, dan akhirnya mereka malah akur, rukun, bahkan jadi satu tim, dan hidup bahagia sentosa seperti Goku dan Bezita.
Di artikel ini, kita bakal ngebahas persaingan yang muncul karena regular game dulu ya?Jadi gini, dari pantauan BMKG (Bapak Macho Keren dan Ganteng) selama tiga musim yang sudah bergulir, rivalitas karena regular game itu nampak pada dua pemain, yakni Dickson dari The Golden & Aldo yang kebetulan jadi Rookie The Golden. Di sini yang keliatan banget lagi ada clash atau saling adu kredibilitas adalah Dickson versus Aldo.
Enggak percaya? lihat deh rekaman aksi Dickson dan Aldo di pada game regular season.
Baik Dickson dan Aldo, keduanya adalah bigman yang rajin datang tiap Kamis malem ke reguler game. Jadi soal absensi, sudah enggak diragukan lagi. Terus, mereka sama-sama kinclong soal scoring. Tapi secara fisik, bodi Aldo lebih besar, sementara Dickson lebih lincah. Persaingan keduanya terasa saat suatu hari Aldo mendominasi sebuah game dengan mencetak skor, berulang kali memblok tembakan Dickson sampai bapak berpostur 180 sentimeter dan 85 kilogram ini kayak badmood dan dongkol.
Namun, di minggu depannya, saat mereka kembali bertemu, gantian Dickson yang mempecundangi Aldo, dengan ya itu mencetak skor lebih banyak dari Aldo dan memblokir tembakan dan operan dari Aldo. Well, dendam terbalaskan. Tapi lucunya, Dickson dan Aldo kini berada di satu tim yang sama yaitu Golden. Jadi mereka baikan deh pakai jari kelingking.
Pada season 3 lalu, ke 2 pemain ini sama-sama menjadi support system dari sang scorer utama Yosua. Apabila Yosua kesulitan pasti salah 1 dari mereka berdua ini yang akan step up. 3 pemain ini memiliki type permainan yang mirip2; bisa score inside – outside, size yang besar dan terakhir sama-sama suka mencetak foul 😀
Rivalitas yang awalnya selalu menjadi musuh pada regular game menjadi bahu – membahu dalam sebuah team pada season 3, Aldo dan Dickson memberikan peran besar dalam kesuksesan team Golden menjadi runner up season 3 lalu. luar biasa memang takdir kadang membawa kita kemana. Llau pertanyaan besar berikutnya apakah Dickson & Aldo nyaman menjadi 1 team bersama? atau season depan akan terjadi perombakan pada team Golden sehingga kita bisa melihat rivalitas regular game antara Dickson dan Aldo terbawa pada season 4? kita nantikan saja musim depan.
Sekian dulu untuk artikel kali ini, kalau kepanjangan nanti takut jadi kayak film serial di Indosiar. Dua rivalitas lainnya, bakal dibahas terpisah di artikel berikutnya. So stay tuned and healthy, make score not war, peace
-masbon
